View on Path

Advertisements
Continue reading

View on Path

Continue reading

Pemangkas Rambut Ko Tang

Membiarkan diri tersesat di dalam gang-gang pecinan Glodok, Jakarta, bisa membawa kepada berbagai macam hal. Kali ini saya berniat untuk kembali ke Gang Gloria untuk sekedar minum Kopi Susu panas di Kopi Es Tak Kie. Namun mata seperti di bawa untuk melihat tempat pangkas rambut yang saya rasa sudah berada di tempat ini lebih dari umur saya.

Kebetulan rambut saya sudah tiga bulan dibiarkan tak terurus. Sebuah alasan yang tepat untuk sekalian foto-foto, saya pikir. Hari itu saya bersama seorang teman dan istrinya, Aditya dan Smita, mencoba pelayanan tempat ini. Oh iya, lokasinya di Jalan Pintu Besar Selatan III No. 10, atau orang-orang lebih tahu Gang Gloria.



Saat kami masuk Ncik Yeye di meja kasir sedang asik bercakap-cakap dengan Ko Pi Cis. Keduanya sudah puluhan tahun bekerja di sini. Saudari tua Ncik Yeye menghampiri dan sedikit bercanda dengan adiknya. Ko A Pauw terlihat serius dengan pelanggan.

Saya dan Aditya menunggu sebentar, Smita duduk di bangku sembari mulai membuka buku sketsa gambarnya.

Meski peralatan pangkas rambut listrik sudah biasa digunakan, namun peralatan tradisional tetap jadi pilihan. Sikat dan kuas untuk busa cukur ditempatkan di baki. Berbagai  ukuran gunting, pisau silet, dan sisir berjajar di sampingnya. 

Bagian pertama: pangkas!

Aditya dengan Ko A Pauw, saya dengan Ko A Ciauw. Seperti biasa, kami diskusi untuk menentukan model potongan dan lainnya. Para pemangkas rambut ini sudah berumur di atas enam puluh tahun. Pengabdian dan karir yang panjang. Singkat cerita, rambut kami sudah terlihat rapi dan mendapat bonus pijat punggung, leher, dan kepala.

Bagian Kedua: Korek Kuping!

Pelayanan ini belum pernah saya lihat di tempat pangkas rambut lain. Bola lampu diarahkan dekat ke lubang telinga dan mereka menggunakan beberapa alat untuk mengeluarkan kotoran. Awalnya saya agak ragu, tapi pasrah saja lah. Kapan lagi keluar tempat pangkas dengan pendengaran lebih jelas kan? Haha..maaf saya berlebihan.

Menurut Ko A Ciauw, keahlian ini tidak selalu dimiliki para pemangkas. Pelajaran dan prakteknya pun memakan waktu yang tidak sebentar.

Bagian ketiga: Keramas!

Nah, di sini lah para staf perempuan beraksi. Ramuan shampoo dan pijatan di kepala menjadi pembuka. Berbeda dengan pangkas rambut pada umumnya, pelanggan akan menunduk pada wastafel ketika mereka membilas rambutnya. Kemudian beberapa handuk hangat yang baru diuap dibalurkan di wajah. Ya ampun, sungguh menghilangkan segala kepenatan selama seminggu ini.

Bagian terakhir: Pengeringan!

Rambut ditata apik, disisir, dan dikeringkan dengan pengering rambut. 

Tidak berlebihan, ini baru pertama kali saya melihat garis lurus di kepala sendiri saat disisir oleh kakak Ncik Yeye. Wow!

Tarifnya hanya Rp. 90.000 (Sembilan puluh ribu rupiah) belum termasuk tip seikhlasnya. Lebih dari sekedar pantas untuk semua pelayanan tadi. 

Ncik Yeye bilang, “Jangan lama-lama kembalinya. Bulan depan kemari lagi ya”

Ko Pi Cis kemudian duduk di samping kursi pangkasnya sembari membuka koran. Pemandangan yang apik sesaat sebelum meninggalkan Pemangkas Rambut Ko Tang.

Jakarta, 9 Desember 2017

Fajar


Featured by Sony

In 2016, I decided to go caving at Jomblang Cave, Jogjakarta. I brought my camera, Sony A7 Mark II, without a doubt. As many other caves, its humidity would be the biggest challenge to electronic devices, not to mention the mud and underground river. Furthermore, the minimal light inside the cave would push my camera up to its limit. I was so thrilled to boost the ISO over 6400. With the recent technology in sensor, the noise should be reduced noticably.

Here’s the picture:

Long story short, I got featured on Sony Instagram account based on its region and countries. I humbly to share a snap of Indonesia’s amazing nature to you. 

1. Sony Singapore

2. Sony Indonesia

 https://www.instagram.com/p/BbYch2RgIqZ/

 https://www.instagram.com/p/BbYco1XHnvD/

3. Sony Thailand

 https://www.instagram.com/p/Bb6cpEyg4TJ/

4. Sony Malaysia

 https://www.instagram.com/p/BcCHl_7hX7V/

5. Sony Middle East and Africa

 https://www.instagram.com/p/BcErdjZF5ML/

6. Sony Philippines

Let’s share the wonderful nature and culture of Indonesia.
Fajar Kristianto


Everyday Carry

Keep your friends close, and your caffeine closer. This is my everyday carry if I don’t hang my camera on my neck.


Jersey Freeport Runners

View on Path


View on Path

Continue reading

Batik Renaissance

The 2nd of October is The National Batik Day in Indonesia. Batik is a heritage acknowledged by UNESCO. It is one of many ways to educate and to internalize Batik to whoever wears it.

This year my office celebrate the Batik day by organizing a photo contest. The participants are divided by department. I represent the Learning and Organization Development.

Further, I am so fortunate to get the trust by several other departments to take their pictures. I read the rules, it says it is allowed to facilitate other departments as a photographer as long as I do not share their concept to other participants.

I assume most of the pictures will be about formation and uniformity. I need something different to take photos for my own department. Recently I read about a team of mechanics who reenact the Renaissance theme for their pictures. Name it “The Last Supper”, “The creation of Eve”, and so on. They went 100 percent to capture each team member with those themes. I’m inspired to do the same. So, though it still needs improvement here and there, I’m convinced to take Renaissance influence for Batik. Here are some pictures I took and later edited by Ditya Chandra over a brief discussion.

Caption 1: The Creation of PBC Book (Principles Business Conduct)

Caption 2: Renaissance in Batik

Thank you. Happy Batik Day!

Fajar


View on Path

Continue reading

Sony A9

View on Path